Dharmais

Yayasan Dharmais

Pada tanggal 8 Agustus 1975 Presiden Soeharto mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Sosial—yang lebih dikenal sebagai Yayasan Dharmais—untuk membantu anak-anak yang kehilangan orangtua, para janda, korban dan veteran operasi integrasi di Timor Timur, yang dikenal sebagai Operasi Seroja. Kompleks perumahan Seroja bertempat di Bekasi, Jakarta Timur, yang mencakup Panti Asuhan Seroja. Pada bulan April 1976, pihak militer di Timor Timur mendirikan panti asuhan dengan nama yang sama, Panti Asuhan Seroja, di Dili, untuk merawat anak-anak Timor Timur yang orangtuanya terluka atau terbunuh dalam upaya mereka mendukung proses integrasi. Panti asuhan ini didanai dan didukung oleh Yayasan Dharmais milik Presiden Soeharto.

Yayasan Dharmais mengatur agar 61 anak yatim piatu asal Timor Timur dikirim ke Jawa untuk mendapatkan pendidikan. Presiden Soeharto memilih anak-anak ini untuk diberi perhatian khusus: para ayah dari separuh anak-anak itu adalah pemimpin maupun pendukung Apodeti dan UDT, yang dibunuh oleh Fretilin sebelum dan sesudah invasi. Pada awal Juni 1976 Soeharto bertemu dengan sebuah delegasi Timor Timur yang dibawa ke Jakarta untuk mendukung integrasi. Dalam delegasi itu terdapat sejumlah janda dari para pemimpin Apodeti dan UDT tersebut. Presiden Soeharto berjanji kepada mereka bahwa Indonesia akan merawat dan mendidik anak-anak mereka. Ia yakin bahwa membawa anak-anak itu untuk disekolahkan di Jawa adalah cara terbaik untuk mendukung perkembangan Timor Timur. Sementara itu, anak-anak yang lain adalah anak yatim piatu yang dipilih dari sejumlah wilayah di Timor Timur. Kebanyakan datang dari kamp konsentrasi, tempat banyak orang tinggal setelah tertangkap atau menyerahkan diri. Kita dapat menyebut anak-anak ini sebagai ‘anak-anak representatif’.

Yayasan Dharmais memilih tiga lembaga di Jawa untuk menampung anak-anak dari Timor Timur:

  • Panti Penyantunan Anak Taruna Negara (PPATN) dikelola oleh Departemen Sosial (Depsos) dan berlokasi di Jl. Raya Cibabat No. 331, Cimahi – Bandung, Jawa Barat. Kini panti ini sudah ditutup.
  • Asrama Santo Thomas di Ungaran – Semarang, Jawa tengah, yang dikelola oleh para suster Katolik dari Ordo Abdi Dalem Sang Kristus (ADSK). Ini adalah ordo lokal yang beranggotakan wanita Jawa Katolik dan memiliki sekitar 17 jemaat di seluruh Indonesia. Pada tahun 1977, ADSK dikepalai oleh Suster Madelina, sementara Suster Petrona menjalankan Yayasan Santa Maria yang bertanggung jawab atas Asrama St. Thomas. Lihat surat-surat dari Yayasan Dharmais yang dikirim ke ADSK.
  • SOS Desa Taruna Kinderdorf, berlokasi di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Ini adalah lembaga swasta yang berafiliasi dengan SOS International, yang berkantor pusat di Austria

Anak-anak itu dipilih oleh pihak militer dan dibawa ke Panti Asuhan Seroja di Dili, dan dari sana mereka dikirim ke Jawa dalam beberapa kloter. Brigadir Jenderal TNI Dading Kalbuadi, yakni Panglima Komando Daerah Pertahanan dan Keamanan (Pangdam) untuk Timor Timur pada saat itu, secara pribadi menyerahkan kloter pertama yang terdiri dari lima orang anak kepada PPATN di Bandung pada tanggal 27 Oktober 1976.

Tawaran yang diberikan kepada anak-anak dan keluarga mereka oleh Yayasan Dharmais itu memang bertujuan baik, dan anak-anak itu dirawat dan dididik di lembaga-lembaga, tempat mereka tinggal. Namun, Yayasan Dharmais gagal dalam banyak hal, terutama dalam menangani anak-anak dan keluarga mereka: yayasan itu tidak membantu anak-anak untuk terus berhubungan dengan keluarga mereka; sejumlah anak yang diambil dari keluarga mereka oleh yayasan akhirnya hilang dan tidak diketahui keberadaannya; yayasan itu juga memanipulasi kisah sebenarnya dari anak-anak tersebut, untuk digunakan dalam propaganda Indonesia – khususnya anak-anak yang dibawa untuk bertemu langsung dengan Presiden Soeharto di kediamannya.

Tabel rincian pengiriman anak-anak dan informasi terkait

Tanggal tiba di Indonesia

Nama lembaga

Jumlah

Informasi tentang anak-anak (yang diketahui)

27 Oktober 1976 PPATN, Bandung

5

Semua anak dari keluarga Conceição, Tibar
30 Desember 1976 Kinderdorf, Bandung

6

3 anak Conceição; 3 anak lain
4 September 1977 St. Thomas, Semarang

20

19 ‘anak representatif’ and 1 anak Conceição
17 Desember 1977 Kinderdorf, Bandung

20

Anak-anak dari ‘martir’ Apodeti dan UDT; nanti mereka disusul oleh anak-anak lain, khususnya saudara kandung
20 November 1979 PPATN, Bandung

10

‘anak-anak representatif’

Lihat informasi tentang anak-anak Conceição

Anak-anak yang berjumlah 61 orang itu dibesarkan dalam ajaran Katolik, agama mayoritas di Timor Timur. Sejumlah lembaga di Indonesia, sering kali dengan bantuan dari Gereja Katolik Indonesia, membiaya pendidikan mereka.

Banyak dari antara anak-anak itu berhasil dengan pendidikan mereka dan kembali untuk tinggal dan bekerja di Timor Timur. Namun, sebagian dari mereka sempat kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Timor Timur. Sementara itu, anak-anak yang lain tinggal di Indonesia karena berkeluarga dan/atau bekerja: 4 dari 20 anak St. Thomas, 6 dari 15 anak di PPATN, dan 1 dari 26 anak di Kinderdorf memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia.