Isabelinha Pinto testimoni

Nama saya: Isabelinha Pinto

Tempat dan tgl lahir: Viqueque 3 juni 1974

Nama ayah saya : Manuel Pinto

Saya diadopsi tentara Indonesia sejak tahun 1979 dan dibawa ke Indonesia. Pada tahun itu kira2 saya berumur 6tahun. Saya diadopsi dengan alasan keluarga tersebut tidak mempunyai anak perempuan. Pada saat diadopsi tentara itu membuat surat resmi pengangkatan namun dalam surat itu org tua saya tidak menanda tanganinya karena tidak setuju anak nya dibawa tentara. Ayah saya seorang Liurai di viqueque. namun karena situasi saat itu akhirnya saya tetap dibawa berdasarkan surat yg telah di buat. Apabila saya tidak dibawa maka semua keluarga saya akan dibunuh.sehingga saya terpaksa dibawa.saat dibawa melalui pelabuhan Laga saya bersama anak2 lain yg sama2 ikut dalam kapal tersebut.  Tetapi karena saya masih kecil jadi saya tidak tau teman2 saya itu dari daerah mana saja. Dalam perjalanan itu sampai di tengah laut tentara2 tersebut pindah ke kapal yg besar dan harus naik lewat tali,saat itu saya ketakutan dan menangis sampai membuat tentara itu marah dan hampir membuang saya ke laut dan akhirnya tentara2 yg lain berteriak jangan pak jangan di buang kasian anak kecil.kalau hanya mau di buang jangan di bawa.dan akhinya saya dimasukkan lewat bulatan besar yg di kapal tersebut.dalam keaadaan pingsan.setelah beberapa jam kemudian saya sadar saya sudah di kamar tentara itu.keesokan harinya bertemu lagi dengan  anak perempuan seusia saya dan ada laki2 jg di atas saya umurnya. Anak laki-laki itu suka di panggil Mutik karena anak itu berkulit putih. Dia dari Baucau .Setelah berlayar selama satu minggu akhirnya kapal bersandar di Surabaya. Ada kejadian mengharukan pada saat di Surabaya itu. Bapak Tentara yang membawa saya itu didatangi oleh sepasang suami istri yang ingin membeli anak-anak yang dibawa dari Timor Leste. Ketika suami istri tersebut menawar saya kepada bapak tentara itu, jawaban yang diberikan cukup memberikan harapan pada diri saya, “Binatang aja saya sayang untuk dijual apalagi ini manusia” itu lah jawab bapak tentara itu saat ingin membeli anak-anak yang dibawa oleh tentara-tentara Indonesia. Beberapa hari kemudian akhirnya kami sampai di Jakarta. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan truk TNI menuju ke markas kesatuan dimana tentara tersebut berasal.

Sesampainya di Markas kesatuan tersebut kami disambut oleh keluarga dari Bapak tentara tersebut diantaranya Istri dari Tentara yang membawa saya, Ibu Mertuanya dan anak-anaknya. Dari sinilah awal penderitaan panjang dimulai. Di awal kedatanganku ibu itu sudah menunjukkan sikap yang tidak mengenakkan. Dia sempat mengatakan bahwa anak ini menjijikan, anak haram, anak gembel dan pantasnya disiram air panas biar mampus. Hari hari berikutnya ibu itu selalu membuat posisi saya sebagai pembantu di rumah tersebut. Setiap hari saya harus mencuci baju mereka yang terdiri ibu, bapak dan anak laki-lakinya sejumlah 5 orang. Jadi terbayang seberapa banyak jumlah baju, celana dan kain-kain kotor yang harus saya cuci setiap harinya.

Setelah selesai mencuci saya baru bisa ke sekolah sehingga kadang saya terlambat berangkat ke sekolah karena pekerjaan belum selesai, pada hal hal jarak ke sekolah gak sampai 200 meter. Sepulang sekolah saya harus menjual Es dan kadang gak dikasih makan sebelum jualan habis. Begitulah rutinitas kegiatan saya setiap harinya sampai kelas 3 SD atau kurang lebih selama 3 tahun saya jalani.

Tahun ke 4 saya dibawa ke Manado, Sulawesi Utara dengan alasan saya tidak dikehendaki tinggal di keluarga Bekasi, sehingga oleh bapak angkat, saya dibawa ke Manado. Di sini saya ikut dengan orang tua dari Bapak angkat saya, saya dipaksa tinggal dengan keluarga baru di Manado ini yang suasananya kurang lebih sama dengan keluarga di Bekasi. Kegiatan disini yang paling berat adalah harus mencari kayu bakar, memberi makan babi, ayam dan sebagainya dan gak boleh ada yang terlambat karena pasti akan kena pukulan kalau ada yang terlambat. Suatu saat orang tua disini tidak sanggup lagi membiayai hidup saya lagi, saya diserahkan ke keluarga yang baru lagi dan mau dijadikan pembantu di rumahnya. Saya tinggal di keluarga baru itu dengan harapan akan ada perubahan nasih saya, akan tetapi pagi kami sampai di rumah itu, sorenya dijemput oleh adik sepupu dari Bapak angkat dan dibawa untuk tinggal di rumah mereka.

Di keluarga ini saya baru merasakan kebahagiaan karena saya diperlakukan dengan baik dan disamakan dalam segala hal dengan kedua anak kandung mereka. Saya di sekolahkan sampai SMA kelas 2.

Saya kelas 3 SMA kembali org tua angkat saya meminta saya untuk kembali ke Jakarta, kembali tinggal bersama mereka. Karena dianggap saya sudah besar dan ibu angkat saya sudah bisa menerima saya. Namun kenyataannya sangatlah jauh dari apa yg diharapkan, kedatangan saya membuat ibu angkat saya dan anak2nya semakin membenci saya dan bapak angkat saya itu juga sayang sama saya karena punya niat lain bukan layaknya orang tua terhadap anak. Ibu angkat cemburu terhadap saya. Namun saya tetap melanjutkan sekolah di kelas 3 SMA. Setiap mau kerja bapak angkat saya selalu minta saya untuk ikut dengan nya, karena takut dirumah dengan alasan takut diracuni oleh ibu angkat saya dan anak2nya. Akhirnya saya bersekolah pindah2 rumah dimana saya harus menumpang di rmh saudara bapak angkat saya dan berangkat sekolah selalu terlambat karena dari tmpt saudara2 nya itu jauh. Setiap dalam perjalanan bapak angkat saya selalu mengutarakan niatnya untuk memperkosa saya. Katanya buat apa saya bawa kamu dn kamu hanya menganggap saya sebagai orang tua saya tidak mau sebatas itu…. kamu tidak ingat jerih payah saya bawa kamu dari hutan. Saya selalu menjawab kalau saya punya keluarga saya dibawa secara sah. Bapak itu selalu marah dan memukul saya, karena tidak menuruti keinginannya. Hampir setiap hari saya mengalami hal itu dan pada akhirnya saya disenangi teman pria, itu pun dengan berbagai masalah, bapak angkat saya cemburu dan mau bunuh diri karena merasa tidak mendapatkan keinginannya lalu saya hampir di bunuh dan di telanjangi oleh bapak itu di depan anak2 laki2nya dan menuduh saya sudah berhubungan dengan teman pria yg senang sama saya. Saat itu ada seorang pendeta yg di panggil untuk menasehati saya. Karena saya selalu di pojokkan oleh pendeta itu maka saya berani bicara sekeras2nya bahwa bapak angkat saya itu yg punya niat jahat mau memperkosa saya, karena itu saya di telanjangi. Sebelumnya dia menjemput saya dari rumah teman saya karena saya sudah diusir makanya saya pergi dari rumah org tua angkat itu. Karena rasa cemburu terhadap teman saya sehingga dia menuntut saya untuk melayani dia. Sampai saya dibawa kembali ke rumahnya itu nah disitulah dia memukul saya pakai tongkat.

Karena kecewa sama saya maka dia mau bunuh diri namun sebelum kejadian itu saya sudah bilang sama ibu angkat saya tentang kelakuan bapak angkat itu tapi ibu itu tidak percaya sama saya barulah kejadian itu dimana dia menuduh saya melakukan hal2 yg menurut dia tidak layak saya lakukan dengan teman saya dimana dia maunya dia adalah org pertama yg memperkosa saya. Akhirnya teman pria saya itu jg sedikit banyak membantu saya buat menjauhkan saya dari bapak angkat saya. Selanjutnya saya pergi dari rmh dan mencari hidup saya sendiri dengan berbekal ijasah SMA akhirnya saya bekerja dan saya pun berusaha melupakan semua kejadian yg saya alami baik orang tua angkat saya maupun teman saya. Tahun 1995 bapak angkat saya itu sakit parah dan saat saat terakhir mau meninggal saya di panggil sama anaknya bahwa bapak itu sudah koma atau kritis, saya pun datang dan dia meminta maaf atas perlakuannya terhadap saya dan saya menjawab TIDAK. Saya hanya bisa mengeluakan air mata hanya untuk orang yg membuat saya ada didunia ini. Ssaat itu semua org menangis ada seorang ibu berbisik pada saya lin…?Tuhan saja memaafkan masa kamu tidak, akhirnya saya pun menjawab “ya” tapi tetap tidak menangis dan bapak itu menghembuskan nafas terakhirnya. Saya pun pergi dari kehidupan keluarga itu. Saya mencari hidup sendiri dengan bekerja pada salah satu perusahaan jepang

Tahun 1999 Saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah disalah satu Lembaga Pendidikan Ilmu Management dan Informatika di Bekasi sambil bekerja. Akhir tahun 1999 saya pergi liburan ke tempat teman saya di Yogyakarta. Disana saya dikenalkan dengan keluarga teman saya yg kebetulan dia seorang pemuda yg aktif di gereja katholik, disitu saya bercerita tentang siapa diri saya sebenarnya dan akhirnya pemuda itu senang kepada saya dan 6 bulan kemudian kami bertunangan sambil saya belajar untuk kembali ke agama saya katholik dan saya juga sempat bertemu salah satu suster orang Baucau di Yogya saya sempat bercerita tentang keluarga saya namun tidak ada respon. Tahun 2001 saya menikah di salah satu gereja Katolik di Yogyakarta, pernikahan itu di pimpin oleh salah seorang pastur yg pernah berkarya selama 7 tahun di Baucau dan Manatuto, Namanya Romo Jarot kelahiran daerah Klaten, Jawa Tengah. Selanjutnya kami tinggal di Bekasi, suami saya bekerja di Jakarta dan saya juga bekerja sambil sekolah.

Kehidupan rumah tangga kami cukup bahagia dan kami dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Setiap hari kami tidak pernah melupakan bersyukur pada Tuhan yag selalu menyertai hidup kami dari hari ke hari. Doa kami yang tidak pernah putus-putus saya jalankan adalah Doa Novena Tiga Salam Maria. Tuhan ternyata tidak pernah tidur dan mendengar doa-doa saya, sehingga saya mendapat jalan terang untuk bertemu keluarga besar saya dari Timor Leste.

Akhirnya pada tgl 13 juni 2009, malam itu saya bermimpi kalau rumah kami di Bekasi di terjang tsunami dan kami ber 4 masuk ke dalam laut itu, dalam mimpi itu saya melihat saat saya masih kecil dan saya berbicara kepada suami saya bawa jangan takut.ini  di Laga. Waktu saya kecil saya pernah dibawa ke dermaga ini malam itupun saya terbangun dan bercerita kepada suami saya. Namun hari hari sebelumnya saya pernah bilang kalau saya ingin sekali berganti nama dengan nama asli saya Isabelinha pinto. Lalu dalam 3 hari itu mulai tgl 14,15,16 Juni 2009 perasaan saya, bahwa Dili itu sudah dekat tepat tanggal 16 juni 2009 saat itulah mimpi saya  terwujud, ada sepupu saya (Atanazio de sa Viana) yg sudah 3 hari juga mencari saya dan akhirnya dengan membawa nama bapak angkat saya dan mereka pun menemukan rumah bapak angkat itu tgl 15 malam lalu pagi tgl 16 sepupu saya itu diantar ke rumah. Semua bagaikan dalam mimpi yg akhirnya jadi kenyataan saya bisa ketemu keluarga saya. Mama saya baru saja 3 hari kembali ke Dili sebelumnya liburan diYogya langsung kembali ke Jakarta. Saat di telpon sepupu saya Mama seperti terbangun dari mimpi, karena sudah 30 tahun tidak pernah tahu kalau saya masih hidup. Mama saya bicara saat di telpon  dengan menyebutkan nama panggilan saya, “Lou Nina” Lou artinya putri, dan Nina adalah nama panggilan waktu saya kecil. Mama saya bertanya masih ingat bahasa Tetun? saya bilang saya cuma ingat “ro dili sedauk mai’ ternyata itu lagu yg papa saya nyanyikan saat saya kecil. Sepupu saya Tanya kakak ingat siapa saudara-saudara kakak di Dili? saya jawab semua saya lupa hanya kakak sepupu saya (Kak Alda), papa saya (Manuel Pinto) yg ternyata sudah meninggal tahun 2008 dan kk saya (Kak Nando) itupun sempat salah sebut nama lengkapnya dan adik perempuan (Mena) saya jg salah sebut hanya ingat nama belakangnya saja. Akhirnya adik perempuan keluarganya dan mama kembali ke Jakarta dan kami bertemu semua keluarga di rumah saya di Bekasi. Pada bulan Desember 2009 kami sekeluarga pulang ke Dili, mengadakan upacara adat di Viqueque tepatnya di desa Buikaren mendoakan kembali bahwa Tuhan telah berkarya buat saya dan saya bisa hidup kembali karena selama 30 th keluarga saya mendoakan kalau saya dianggap sudah meninggal.

inilah kisah saya, semoga jadi inspirasi buat teman dan  anak-anak Timor L

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *